Showing posts with label kontemporer. Show all posts
Showing posts with label kontemporer. Show all posts

Saturday, February 13, 2010

Lagi, Puisi Kontemporer

Tapi kali ini bukan buatan gue. Ini buatan seorang teman yang duduknya tepat di depan gue dan sering jadi sasaran keusilan gue kalo lagi bete pas belajar, Mamad. Pertama kali dia ngasih liat puisi ini, dia minta gue nyariin judul yang pas. Karena waktu itu gue juga masih rada ngeblank sama judulnya Balada Hati, gue nggak bisa ngasih ide. Akhirnya dia sendiri memutuskan untuk ngasih judul Deru Hening. Gue suka puisi ini sejak pertama gue baca. Guru Bahasa Indonesia gue juga muji puisinya ini. Emang sih, dari 40 puisi yang dibuat murid XII IPA 7, puisi yang ‘benar-benar puisi kontemporer’ yaa cuma puisi si Mamad ini. Yang lainnya mah lebih nyambung ke puisi baru biasa, malah lebih masuk ke puisi curhat *termasuk puisi gue sendiri hahahaha :D


DERU HENING

Aku
Engkau
Sama saja
Tak mengerti
Tentang semua ini
Harmoni tentang kehidupan
Mengalunkan sejuta buah pikiran
Terkaman dan cabikan nafsu binatang
Selalu kau jadikan alasan menghapus jejakku
malam belantara zaman lalu telah habis kukuasai
merekah menaburkan bola mata yang terpana padaku
menguap peluh dari jeritan siang belantara kehidupan
tapi kini itu semua hanyalah debu mimpi di masa listrik ini
aku diam menanti seorang gatot kaca terbang kembali
timbul tenggelam bergantian dengan kotak warna
suram dan buram itulah nasib kehidupanku kini
polos tersedu atas tangan dewa bangsa ini
besar kemerosotan tonggak nilai yang kubuat
namun tetap akan terbuka gerbang majapahit
sebuah gerbang cahaya untuk bintang bangsa
yang mau mengibaskan angin eropa-amerika
!!!!
!!!


Kata Mamad sih, temanya tentang nasib wayang gunungan.


Thursday, January 28, 2010

Puisi Kontemporer (Lagi)

Nampangin puisi lagi ah :D
Sama kayak puisi sebelumnya, puisi ini juga terinspirasi dari Bidam-Mishil dan orang-orang yang punya hubungan seperti mereka.

MENGGUGAT


Kukuras habis jiwa
Kukuras habis raga
Kukuras habis asa
Kukuras habis cita
Kukuras habis cinta
Dan kau bayar sebelah mata

Tidaklah aku adalah dia
Tidaklah dia adalah aku
Jangan lihat dia pada aku
Jangan cari dia pada aku
Akulah aku!

Hentilah siramiku dengan kelabu
Ada hakku pada cahaya itu
Hentilah siramiku dengan kelabu
Ada hakku pada cahaya itu
Hentilah banjiriku dengan kelabu
Ada hakku pada cahaya itu

Pandang, lihat luka ini
Lihat, pandang darah ini
Sezarah darahku
Sezarah darahnya
Sezarah darahmu

2010.01.11 21:29

First poem this year

I didn't realize that I didn't make any poems during 2008 and 2009 and that's totally bad. Gue baru sadar pas disuruh bikin puisi kontemporer, trus gue bongkar file puisi-puisi lama gue, dan baru ngeh kalo gak ada yang tahun 2008 atau 2009. Ckckck paraaaaah banggeeet! Akhirnya sebagai tanda comeback *halah gaya* gue bikin puisi yang rada panjang. Please enjoy.


BALADA HATI

Kebencianku padamu mengaliri jantungku.
Kugantungkan hidup padamu, kau buang aku jauh.
Dingin menerpa, kau tolak aku hingga begini beku.
Terjatuh, kau acuhkan aku hingga begini berlumpur dendam.
Kulihat matahari, kubersumpah,
akan kubayar semua yang kau berikan padaku.
Akan kutunjukkan aku mampu menggenggam dunia.
Akan kuperlihatkan aku tak butuh dirimu.

Satu yang tak pernah bisa kusangkal,
sezarah bagian selku adalah punyamu.
Bahwa ternyata dalam setiap tarikan nafas ini,
ada setitik rindu yang terhirup,
terakumulasi dan perlahan bermetamorfosis,
menjadi tak tertahankan.

Aku tak menolak kau banjiri dengan hitam.
Kau mau cabik raga ini, silakan.
Aku tak apa kau garami luka ini.
Kau mau tebas jiwa ini, silakan.
Demi menggenggammu sekali ini,
aku sudah menyerahkan segalanya.
Bahkan membuang jauh mahkota,
merendah sampai mencium tanah.

Hanya satu: jangan tolak aku.
Bukan senyum indah,
bukan bisikan cinta,
bukan tatapan sayang,
bukan pelukan hangat.
Biarkan aku di sini untuk pertama dan yang terakhir.

Melihatmu begini tak berdaya, tak ada kepuasan.
Melihatmu begini tak berdaya, dadaku mendadak sesak.
Ada bening yang memaksa keluar.

Meski hingga akhir aku tak pernah tahu
mengapa kau begitu tidak ingin melihatku,
meski aku tahu aku membencimu seumur hidupku,
tapi rupanya di hati ini ada setitik perasaan dalam bentuk lain untukmu.


2010.01.17 22:29

Thursday, July 30, 2009

PERKEMBANGAN SENI RUPA TRADISIONAL, MODERN, & KONTEMPORER


Di awal tahun ajaran langsung dikasih tugas bikin makalah tentang beginian sama Pak Guru aka Mr Polo -,- Eh pas dicari di internet bahannya sedikit buanget. Walhasil sekelas sumbernya sama semua. Paling cuma beda-beda dikit aja. Nah, siapa tahu ada yang belum bikin tugas makalah ini, gue poskan saja makalah yang gue kumpulin ke Mr Polo :D Do not remove the sources and please take out with full credits.

[EDIT] Dan oh ternyata anak Galan tahun berikutnya juga masih dikasih tugas yang sama -,-' *Mr Polo gak kreatif zzz* Btw sori yaa numberingnya nggak rapi.
------------------------------------------------------------------

Seni rupa adalah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan. Kesan ini diciptakan dengan mengolah konsep garis, bidang, bentuk, volume, warna, tekstur, dan pencahayaan dengan acuan estetika.



  1. SENI RUPA TRADISIONAL
    Pengertian

    Seni tradisional adalah unsur kesenian yang menjadi bagian hidup masyarakat dalam suatu kaum/puak/suku/bangsa tertentu. Seni tradisional yang ada di suatu daerah berbeda dengan yang ada di daerah lain, meski pun tidak menutup kemungkinan adanya seni tradisional yang mirip antara dua daerah yang berdekatan.


    Ciri-ciri


  • Penciptaannya selalu berdasarkan pada filosofi sebuah aktivitas dalam suatu budaya, bisa berupa aktivitas religius maupun seremonial.

  • Terikat dengan pakem-pakem tertentu.


Contoh
Wayang kulit, wayang golek, wayang beber, ornamen pada rumah-rumah tradisional di tiap daerah, batik, songket, dan lain-lain.



  1. SENI RUPA MODERN
    Pengertian

    Seni rupa modern adalah seni rupa yang tidak terbatas pada kebudayaan suatu adat atau daerah, namun tetap berdasarkan sebuah filosofi dan aliran-aliran seni rupa.


    Ciri-ciri


  • Konsep penciptaannya tetap berbasis pada sebuah filosofi , tetapi jangkauan penjabaran visualisasinya tidak terbatas.

  • Tidak terikat pada pakem-pakem tertentu.


Contoh
Lukisan-lukisan karya Raden Saleh Syarif Bustaman, Basuki Abdullah, dan pelukis era modern lainnya.

Seniman
Raden Saleh Syarif Bustaman, Abdulah Sr, Pirngadi, Basuki Abdullah, Wakidi, Wahid Somantri, Agus Jaya Suminta, S. Sujoyono, Ramli, Abdul Salam, Otto Jaya S, Tutur, dan Emira Sunarsa.



  1. SENI RUPA KONTEMPORER
    Pengertian

    Seni Kontemporer adalah salah satu cabang seni yang terpengaruh dampak modernisasi. Kontemporer itu artinya kekinian, modern atau lebih tepatnya adalah sesuatu yang sama dengan kondisi waktu yang sama atau saat ini. Jadi seni kontemporer adalah seni yang tidak terikat oleh aturan-aturan zaman dulu dan berkembang sesuai zaman sekarang. Lukisan kontemporer adalah karya yang secara tematik merefleksikan situasi waktu yang sedang dilalui. Misalnya lukisan yang tidak lagi terikat pada Rennaissance. Begitu pula dengan tarian, lebih kreatif dan modern.


    Ciri-ciri


  • Tidak terikat oleh aturan-aturan zaman dulu dan berkembang sesuai zaman.

  • Tidak adanya sekat antara berbagai disiplin seni, alias meleburnya batas-batas antara seni lukis, patung, grafis, kriya, teater, tari, musik, hingga aksi politik.


Contoh
Karya-karya happening art, karya-karya Christo dan berbagai karya enviromental art.

Seniman
Gregorius Sidharta, Christo, dan Saptoadi Nugroho.


Referensi: