Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Sunday, July 25, 2010

Putri Bulan dan Pangeran Matahari

Kau menyadari, timur dan barat takkan pernah bertemu
Aku mengerti, air dan minyak takkan bisa bersatu
Meski cerita belum sampai ending, kita sama-sama tahu
Biar kontak dititah mati, ia akan terus membara, menyapa kau dan aku
Mengumpulkan semua mungkin walau tiada waktu

Melawan bukannya tak berguna, berontak bukan sia-sia
Tapi berdiam tak selalu putus asa
Tidak memilih bahagia dalam sengsara, tidak juga sengsara dalam bahagia
Hanya menunggu munculnya sabun yang didamba

Berapa guliran zaman pun tak berarti
Seratus tusukan tak bisa melukai
Sampai sekarat pun jangan lelah menanti
Semua binar dan rindu yang tersimpan rapi
Kelak bukan sekedar mimpi


Puisi lama. Entah kenapa tiba-tiba pengen ngepost ini...

Thursday, February 25, 2010

Sapardi Djoko Damono's

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada



Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu


*dua puisi ini muncul di soal try out bahasa Indonesia. Menyenangkan sekali melihatnya terselip di antara puluhan soal yang menjemukan :)

Saturday, February 13, 2010

Lagi, Puisi Kontemporer

Tapi kali ini bukan buatan gue. Ini buatan seorang teman yang duduknya tepat di depan gue dan sering jadi sasaran keusilan gue kalo lagi bete pas belajar, Mamad. Pertama kali dia ngasih liat puisi ini, dia minta gue nyariin judul yang pas. Karena waktu itu gue juga masih rada ngeblank sama judulnya Balada Hati, gue nggak bisa ngasih ide. Akhirnya dia sendiri memutuskan untuk ngasih judul Deru Hening. Gue suka puisi ini sejak pertama gue baca. Guru Bahasa Indonesia gue juga muji puisinya ini. Emang sih, dari 40 puisi yang dibuat murid XII IPA 7, puisi yang ‘benar-benar puisi kontemporer’ yaa cuma puisi si Mamad ini. Yang lainnya mah lebih nyambung ke puisi baru biasa, malah lebih masuk ke puisi curhat *termasuk puisi gue sendiri hahahaha :D


DERU HENING

Aku
Engkau
Sama saja
Tak mengerti
Tentang semua ini
Harmoni tentang kehidupan
Mengalunkan sejuta buah pikiran
Terkaman dan cabikan nafsu binatang
Selalu kau jadikan alasan menghapus jejakku
malam belantara zaman lalu telah habis kukuasai
merekah menaburkan bola mata yang terpana padaku
menguap peluh dari jeritan siang belantara kehidupan
tapi kini itu semua hanyalah debu mimpi di masa listrik ini
aku diam menanti seorang gatot kaca terbang kembali
timbul tenggelam bergantian dengan kotak warna
suram dan buram itulah nasib kehidupanku kini
polos tersedu atas tangan dewa bangsa ini
besar kemerosotan tonggak nilai yang kubuat
namun tetap akan terbuka gerbang majapahit
sebuah gerbang cahaya untuk bintang bangsa
yang mau mengibaskan angin eropa-amerika
!!!!
!!!


Kata Mamad sih, temanya tentang nasib wayang gunungan.


Thursday, January 28, 2010

Puisi Kontemporer (Lagi)

Nampangin puisi lagi ah :D
Sama kayak puisi sebelumnya, puisi ini juga terinspirasi dari Bidam-Mishil dan orang-orang yang punya hubungan seperti mereka.

MENGGUGAT


Kukuras habis jiwa
Kukuras habis raga
Kukuras habis asa
Kukuras habis cita
Kukuras habis cinta
Dan kau bayar sebelah mata

Tidaklah aku adalah dia
Tidaklah dia adalah aku
Jangan lihat dia pada aku
Jangan cari dia pada aku
Akulah aku!

Hentilah siramiku dengan kelabu
Ada hakku pada cahaya itu
Hentilah siramiku dengan kelabu
Ada hakku pada cahaya itu
Hentilah banjiriku dengan kelabu
Ada hakku pada cahaya itu

Pandang, lihat luka ini
Lihat, pandang darah ini
Sezarah darahku
Sezarah darahnya
Sezarah darahmu

2010.01.11 21:29

First poem this year

I didn't realize that I didn't make any poems during 2008 and 2009 and that's totally bad. Gue baru sadar pas disuruh bikin puisi kontemporer, trus gue bongkar file puisi-puisi lama gue, dan baru ngeh kalo gak ada yang tahun 2008 atau 2009. Ckckck paraaaaah banggeeet! Akhirnya sebagai tanda comeback *halah gaya* gue bikin puisi yang rada panjang. Please enjoy.


BALADA HATI

Kebencianku padamu mengaliri jantungku.
Kugantungkan hidup padamu, kau buang aku jauh.
Dingin menerpa, kau tolak aku hingga begini beku.
Terjatuh, kau acuhkan aku hingga begini berlumpur dendam.
Kulihat matahari, kubersumpah,
akan kubayar semua yang kau berikan padaku.
Akan kutunjukkan aku mampu menggenggam dunia.
Akan kuperlihatkan aku tak butuh dirimu.

Satu yang tak pernah bisa kusangkal,
sezarah bagian selku adalah punyamu.
Bahwa ternyata dalam setiap tarikan nafas ini,
ada setitik rindu yang terhirup,
terakumulasi dan perlahan bermetamorfosis,
menjadi tak tertahankan.

Aku tak menolak kau banjiri dengan hitam.
Kau mau cabik raga ini, silakan.
Aku tak apa kau garami luka ini.
Kau mau tebas jiwa ini, silakan.
Demi menggenggammu sekali ini,
aku sudah menyerahkan segalanya.
Bahkan membuang jauh mahkota,
merendah sampai mencium tanah.

Hanya satu: jangan tolak aku.
Bukan senyum indah,
bukan bisikan cinta,
bukan tatapan sayang,
bukan pelukan hangat.
Biarkan aku di sini untuk pertama dan yang terakhir.

Melihatmu begini tak berdaya, tak ada kepuasan.
Melihatmu begini tak berdaya, dadaku mendadak sesak.
Ada bening yang memaksa keluar.

Meski hingga akhir aku tak pernah tahu
mengapa kau begitu tidak ingin melihatku,
meski aku tahu aku membencimu seumur hidupku,
tapi rupanya di hati ini ada setitik perasaan dalam bentuk lain untukmu.


2010.01.17 22:29